Perencanaa Dalam Audit

Auditor perlu mempertimbangkan informasi mengenai integritas manajemen kekeliruan dan ketidakberesan, dan pelanggaran hukum klien dalam perencanaan audit. Luas dan kelengkapan perencanaan sangat tergantung pada:

a. Ukuran dan kompleksitas perusahaan klien.
b. Pengalaman auditor dengan klien.
c. Pengetahuan dan kemampuan auditor beserta seluruh stafnya.
Dalam buku ini dikemukakan ada enam langkah yang dilakukan dalam perencanaan audit, yaitu:
  1. Menghimpun pemahaman bisnis klien dan industri klien
  2. Melakukan prosedur analitis
  3. Melakukan penilaian awal terhadap materialitas
  4. Menilai resiko audit
  5. Mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk asersi-asersi yang signifikan
  6. Menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern klien.
Menghimpun Pemahaman Bisnis Klien dan Industri Klien
Penghimpunan pemahaman bisnis dan industri klien dilakukan dengan tujuan untuk mendukung perencanaan audit yang dilakukan auditor pemahaman kejadian, transaksi, dan praktik yang berpengaruh signifikan atas laporan keuangan harus dihimpun oleh auditor.
Hal-hal yang berkaitan dengan bisnis dan industry klien yang perlu dipahami auditor adalah sebagai berikut:
  1. Jenis bisnis dan produk klien
  2. Lokasi dan karakteristik operasi klien seperti metode produksi dan pemasaran.
  3. Jenis dan karakteristik industry.
  4. Eksistensi ada tidaknya pihak terkait yang mempunyai hubungan erat dengan klien.
  5. Regulasi pemerintah yang mempengaruhi bisnis dan industri klien.
  6. Karakteristik laporan yang harus diberikan kepada badan regulasi.
Pemahaman auditor tentang bisnis klien dan industri klien dapat diperoleh melalui:
  1. Penelaahaan kertas kerja tahun lalu.
  2. Penelaahaan data industri dan data bisnis.
  3. Peninjauan terhadap operasi klien.
  4. Pengajuan pertanyaan pada dewan komisaris maupun komite audit.
  5. Pengajuan pertanyaan pada manajemen.
  6. Penentuan keberadaan hubungan ekonomis dengan perusahaan lain dalam satu kelompok usaha
Melakukan Prosedur Anilitis
 
Prosedur analitis adalah pengevaluasian informasi keuangan yag dibuat dengan mempelajari hubungan-hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data non keuangan.
Prosedur analitis dilakukan dalam tiga tahap audit yaitu tahap perencanaan, tahap pengujian, dan tahap penyimpulan hasil audit.
Dalam standar auditing seksi 329 paragraf 06 dikemukakan prosedur analitis dalam perencanaan audit harus ditunjukan untuk:
  • Meningkatkan pemahaman auditor atas usaha klien dan traksasi atau peristiwa yang terjadi sejak tanggal audit terakhir, dan
  • Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan resiko tertentu yang bersangkutan dengan audit.
Ada enam langkah yang harus dilakukan auditor dalam melakukan prosedur analistis,yaitu:
  1. Mengidentifikasi perhitungan dan perbandingan yang akan dibuat.
  2. Mengembangkan ekspektasi.
  3. Melakukan perhitungan dan perbandingan.
  4. Menganalisis data.
  5. Menyelidiki perbedaan atau penyimpangan yang tidak diharapkan yang signifikan.
  6. Menentukan pengaruh perbedaan atau penyimpangan atas perencanaan audit.
Melakukan Penilaian Awal Terhadap Materialitas
 
Materialitas merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam audit laporan keuangan karena materalitas mendasari penerapan standar auditing, khususnya standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan.
Dalam perencanaan audit, auditor menentukan materalitas pada dua tingkat:
  1. Materialitas tingkat laporan keuangan.
  2. Materialitas tingkat saldo akun.

Thaks to Allah S.W.T